№ 38 dari 100
Kakapo
Strigops habroptilus
Satu-satunya burung beo tak bisa terbang di dunia — aktif malam hari, hijau lumut, dan berwajah burung hantu — dipantau begitu ketat hingga setiap ekor memiliki nama.
- Sebaran
- Selandia Baru
- Kawasan
- Oseania
- Habitat
- Suaka pulau bebas predator (Whenua Hou, Anchor, dan Te Hauturu-o-Toi)
Kisahnya
Kakapo berevolusi tanpa predator mamalia dan nyaris lenyap ketika tikus, kucing, dan cerpelai berdatangan; pada tahun 1995 hanya tersisa 51 ekor. Kini setiap burung mengenakan pemancar di pulau bebas predator, dengan penjodohan berbasis genomik dan pengumpan pintar yang mendorong musim berkembang biak rekor.
Apa yang membunuh mereka
- Predator yang diintroduksi di daratan utama
- Kemandulan dan perkawinan sekerabat
- Penyakit (aspergilosis)
- Pola berkembang biak naik-turun yang terkait pembuahan pohon rimu
Siapa yang memperjuangkan mereka
NZ Dept. of ConservationNew Zealand Department of Conservation
Re:wildRe:wild — Global Wildlife Conservation
BirdLife InternationalBirdLife International
Logo adalah milik organisasi masing-masing dan tertaut ke situs resmi mereka.
Jawaban singkat
Berapa banyak Kakapo yang tersisa di dunia?
Sekitar ~244. Kakapo (Strigops habroptilus) terdaftar sebagai Kritis dalam Daftar Merah IUCN, dan tren populasinya pulih. Angka-angka ini adalah estimasi yang dihimpun dari Daftar Merah IUCN dan organisasi konservasi.
Di mana Kakapo hidup?
Kakapo ditemukan di Selandia Baru (Oseania). Habitatnya: Suaka pulau bebas predator (Whenua Hou, Anchor, dan Te Hauturu-o-Toi).
Mengapa Kakapo terancam punah?
Ancaman utama bagi Kakapo adalah: Predator yang diintroduksi di daratan utama; Kemandulan dan perkawinan sekerabat; Penyakit (aspergilosis); Pola berkembang biak naik-turun yang terkait pembuahan pohon rimu.
Siapa yang berupaya menyelamatkan Kakapo?
Organisasi yang bekerja dalam konservasi Kakapo antara lain New Zealand Department of Conservation; Re:wild — Global Wildlife Conservation; BirdLife International.